Dari Takut Bicara, Francesco Menang Apple Swift Student Challenge 2026
Cupertino, Amerika Serikat, Uzone.id - Di balik gelaran WWDC 2026, ada cerita menarik dari salah satu pelajar asal Indonesia yang mendapat apresiasi tinggi dari Apple. Ia adalah Francesco Emmanuel Setiawan, mahasiswa Ilmu Komputer tingkat akhir di BINUS University yang berhasil menjadi Pemenang Unggulan Apple Swift Student Challenge 2026.
Francesco menang lewat aplikasi berjudul Against the Silence, sebuah game interaktif yang dirancang untuk membantu pengguna melatih keberanian berbicara di depan umum.
Saat ditemui Uzone.id setelah keynote WWDC 2026 di Apple Park, Cupertino, Amerika Serikat (AS), Francesco mengaku masih sulit percaya bahwa karyanya bisa membawanya sejauh ini.
âSangat menakjubkan, saya tidak percaya bahwa saya menang. Saya ingat pertama kali saya melihat email, saya menangis. Dan ibu saya bangun, karena sudah lewat malam. Dia marah dengan saya, tapi kemudian saya menunjukkan kepadanya bahwa saya menang dan dia senang,â katanya.
âPengalaman itu luar biasa. Saya juga dapat bertemu orang yang hebat,â sambungnya.
Berawal dari rasa cemas saat berbicara
Ide di balik Against the Silence terasa cukup personal bagi Francesco. Sejak dulu, ia mengaku punya rasa cemas secara sosial. Dalam banyak situasi, Francesco lebih sering memilih diam dibanding menyampaikan pendapatnya.
Padahal, menurutnya, ada banyak momen di mana ide yang ia punya sebenarnya bisa memberi dampak. Bahkan ketika rasa percaya dirinya mulai tumbuh, Francesco tetap merasa berbicara secara spontan bukan hal yang mudah.
Pengalaman itu kemudian ia bawa ke dalam riset kecil. Francesco mewawancarai 22 profesional muda, dan menemukan bahwa 75 persen dari mereka mengalami kesulitan serupa dalam menyampaikan pendapat atau berbicara spontan.
Dari sana, Francesco melihat bahwa public speaking bukan cuma soal tampil di atas panggung. Kemampuan ini juga berpengaruh ke peluang kerja, kepemimpinan, hubungan sosial, sampai kesempatan yang lebih luas.
Masalahnya, latihan sendiri sering terasa kurang menantang. Sementara latihan dengan orang lain bisa terasa mengintimidasi, terutama bagi mereka yang belum percaya diri.
Itulah kenapa ia menciptakan Against the Silence. Game ini mencoba menjawab masalah sulit bicara tersebut lewat pendekatan yang lebih ringan, di mana pemainnya harus menghadapi semacam demon atau monster yang menjadi metafora dari rasa takut terhadap penilaian orang lain.
Untuk mengalahkan demon tersebut, pemain harus menggunakan suara mereka. Di dalam game, pemain ditantang mempertahankan pendapat yang tidak populer. Bukan cuma itu, pemain juga harus menyebutkan kata-kata tertentu, sekaligus menghindari kata-kata lain yang dilarang seperti âummâ atau âhmmâ yang akan mengurangi skor.
Dengan cara ini, setiap ronde bukan cuma terasa seperti permainan, tapi juga menjadi latihan berbicara yang terukur. Sebab menurutnya, kemampuan berbicara memang perlu dilatih terus-menerus.
âSkill ngomong itu seperti sebuah otot. Jadi harus dilatih terus-menerus,â ujarnya.
Ia juga berpesan kepada orang-orang yang punya kesulitan serupa agar tidak takut mencoba keluar dari zona nyaman.
âCoba saja, go out of your comfort zone, dan lama-lama bakal bisa,â kata Francesco.
Pakai Speech Recognizer dari Apple
Dalam membangun Against the Silence, Francesco menggunakan beberapa teknologi dari ekosistem Apple. Salah satunya adalah Speech Recognizer, yang dipakai agar aplikasi bisa mendeteksi kata-kata yang diucapkan pengguna.
âKalau sekarang ini dari Apple saya pakai namanya Speech Recognizer. Jadi itu untuk app-nya bisa detect kita ngomong kata-kata apa saja,â jelas Francesco.
Selain itu, ia juga menggunakan teknologi dasar seperti Swift dan SwiftUI untuk membangun pengalaman aplikasinya.
Untuk saat ini, Against the Silence masih tersedia dalam bahasa Inggris. Francesco mengatakan versi bahasa Indonesia masih dalam proses pertimbangan dan pengembangan.
âBaru English only. Versi Indonesia itu work in progress, nanti kita lihat,â tambahnya.
Malah, ke depannya Francesco berencana menyempurnakan Against the Silence sebelum akhirnya merilisnya ke App Store.
Salah satu fitur yang ingin ia tambahkan adalah AI yang bisa menilai kemampuan berbicara pengguna secara lebih detail. Bukan hanya mendeteksi kata yang diucapkan, tapi juga menilai isi pembicaraan dan cara penyampaiannya.
âRencananya mau tambahin AI yang bisa lebih detail lagi menilai konten dari kita ngomong. Juga bisa untuk presentasi,â pungkas Francesco.