Efisiensi Ubisoft: Tutup Studio dan Batalkan 6 Proyek Game Sekaligus

Oleh Muhammad Faisal Hadi Putra • 4 bulan yang lalu

Uzone.id - Internal Ubisoft tengah bergejolak. Restrukturisasi perusahaan secara menyeluruh langsung berdampak pada enam proyek game yang langsung dibatalkan, salah satunya game remake yang telah lama dinanti-nanti, Prince of Persia: The Sands of Time. 

Nasib remake game legendaris ini memang sudah lama ‘digantung’. Pertama kali diumumkan pada 2020, proyek ini awalnya digarap oleh Ubisoft Mumbai dan Ubisoft Pune. Namun, saat trailer perdananya tayang, para fans tidak puas dengan kualitas visual yang dianggap tidak sesuai ekspektasi.

Ubisoft pun akhirnya memindahkan pengembangannya ke Ubisoft Montreal, studio di balik suksesnya versi orisinal Prince of Persia: The Sands of Time pada tahun 2003 silam. 

Kemudian di tahun 2023, Ubisoft sempat mengonfirmasi bahwa pengembangan game tersebut dimulai ulang dari awal. Pembatalan ini kian menjadi kejutan, lantaran sempat beredar rumor kalau remake Prince of Persia: The Sands of Time bakal rilis paling cepat di pertengahan Januari atau paling lambat sebelum April tahun ini.


Bukan cuma Prince of Persia: The Sands of Time, imbas restrukturisasi Ubisoft juga berdampak pada lima game lain yang belum sempat diumumkan judulnya, termasuk satu game mobile.

Dari pengumuman resminya, Ubisoft menyebut langkah tersebut terpaksa dilakukan karena game-game tersebut dinilai tidak memenuhi standar kualitas baru yang lebih tinggi, serta tidak lagi masuk dalam prioritas portofolio perusahaan.

Menurut Pendiri sekaligus CEO Ubisoft, Yves Guillemot, saat ini lanskap industri game sudah berubah drastis dan menuntut standar yang jauh lebih tinggi.

"Di satu sisi, industri AAA menjadi semakin selektif dan kompetitif dengan meningkatnya biaya pengembangan dan tantangan yang lebih besar dalam menciptakan sebuah brand," ujarnya.

Namun, ia juga melihat peluang besar jika strategi mereka tepat sasaran. "Di sisi lain, game AAA yang luar biasa, jika sukses, memiliki potensi finansial yang lebih besar dari sebelumnya," tambahnya.

Guillemot menegaskan bahwa keputusan membatalkan proyek game-game ini memang menyakitkan, namun langkah ini harus diambil demi masa depan perusahaan.

"Meskipun keputusan ini sulit, hal ini diperlukan bagi kami untuk membangun organisasi yang lebih fokus, efisien, dan berkelanjutan dalam jangka panjang," tegasnya.

Bukan cuma membatalkan enam judul game, Ubisoft juga terpaksa menunda tujuh rilisan game demi mematangkan kualitasnya. Studio ini tak menyebut detailnya, tapi santer beredar rumor kalau remake Assassin’s Creed 4: Black Flag jadi salah satu judul yang terkena penundaan ini.



Fokus ke open world dan GaaS-native

Studio Ubisoft Stockholm (Foto: Ubisoft)

Ke depannya, Guillemot mengatakan bahwa Ubisoft akan fokus untuk memproduksi game berkualitas tinggi pada dua pilar inti strategi mereka, yakni Open World Adventures dan pengalaman GaaS-native (games-as-a-service). 

“Kami sedang mentransformasi model operasional Ubisoft untuk menghasilkan game berkualitas luar biasa pada dua pilar inti strategi kami, yaitu Open World Adventures and GaaS-native,” jelasnya.

Guna mendukung visi ini, operasional Ubisoft dirombak total dan dipecah menjadi lima Creative Houses, yang masing-masing memiliki spesialisasi genre sendiri dan bertanggung jawab penuh atas brand yang mereka pegang. pembagiannya dibuat sangat spesifik, antara lain:

  • Vantage Studios, menangani nama-nama besar yang jadi tulang punggung perusahaan, seperti Assassin’s Creed, Far Cry, dan Rainbow Six.
  • Shooter, fokus pada game tembak-menembak kompetitif dan kooperatif seperti The Division, Ghost Recon, dan Splinter Cell.
  • Live Experiences, mengurus game dengan elemen live service kuat seperti For Honor, The Crew, hingga Skull & Bones.
  • Fantasy Worlds, menangani game-game seperti Prince of Persia, Rayman, Anno, dan Beyond Good & Evil.
  • Casual & Family, fokus pada game keluarga dan mobile, seperti Just Dance, Uno, dan Hungry Shark.



Tak cukup di situ, Ubisoft pun tengah melakukan upaya penghematan besar-besaran dengan menutup studio mereka di Halifax (studio mobile) dan Stockholm awal bulan ini. Selain itu, restrukturisasi juga dilakukan di studio Abu Dhabi, RedLynx, dan Massive Entertainment.

Langkah ini diambil untuk merampingkan organisasi dan efisiensi biaya yang ditargetkan mencapai EUR200 juta atau lebih dari Rp3,3 triliun, setidaknya dalam dua tahun ke depan.