Membuat Board Game Sendiri dari Limbah Kertas

25 January 2018 - by

Uzone.id - Jauh sebelum ada video game, anak-anak di Indonesia sudah lebih dulu memainkan board game, sebut saja catur, congklak atau bahkan bekel yang gemar dimainkan anak-anak Indonesia sejak lama. Selain itu ada permainan yang lebih modern seperti Monopoli, Ludo atau Ular Tangga.

Beberapa tahun belakangan ini, board game menjadi salah satu industri yang berkembang di Indonesia. Jajaran board game dalam negeri seperti Mat Goceng, The Festivals, Waroong Wars, Laga Jakarta, Kakak Teladan dan masih banyak lagi, menjadi mainan “kids jaman now” dan keluarga-keluarga di Indonesia.

Advertising
Advertising

Rupanya, salah satu sebab perkembangan ini adalah karena ada banyak dampak positif dari bermain board game. Misalnya, pemain board game akan melakukan interaksi sosial secara langsung (tatap muka) dengan temannya, sehingga mengembangkan kemampuan membaca dan memahami emosi sesama pemain.

Board game juga mampu menumbuhkan semangat kompetisi dan kolaborasi. Serta, melalui konten di dalamnya, bisa membantu pemainnya untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas.

Selain tentunya menjadi hiburan yang menyenangkan. Berangkat dari hal tersebut, Code Margonda bersama Enigami Papers menghadirkan workshop bertajuk “board game Crafting”. Dalam kegiatan ini peserta akan mendapatkan kesempatan merancang board game karya mereka sendiri lalu memproduksinya dengan teknik-teknik pengolahan kertas bekas dan barang tak terpakai lainnya.

“Kami melihat board game punya potensi yang sangat luas, termasuk untuk mengangkat budaya Indonesia, sesuai dengan misi kami di Enigami. Hal tersebut, digabungkan dengan proyek mengolah kertas tak terpakai untuk menjadi komponennya, kami harapkan bisa meningkatkan kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar mereka,” ujar Sarudi Putra, pendiri Enigami Papers, dalam siaran pers yang diterima uzone.id, Kamis (25/1).

Kegiatan “board game Crafting” ini dirancang sebagai kegiatan belajar berbasis proyek (project based learning) yang diharapkan bisa meningkatkan kemampuan riset, analisis serta kolaborasi tim bagi para peserta. Tentunya, semua dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.

“Board game Crafting ini jadi salah satu program awal bagi Ruang Karya, inisiatif terbaru dari Code Margonda untuk menghadirkan satu lagi ruang kolaborasi di Depok," ujar Didi Diarsa, salah satu co-founder Code Margonda.

Semua langkah yang diperlukan untuk membuat board game dari kertas berkas akan dipraktikan langsung bersama-sama dalam kegiatan yang di Code Margonda, Depok. Ada rangkaian kelas (empat kali

pertemuan) di bulan Februari 2018. Kelas akan diadakan di luar jam sekolah. Biaya per peserta adalah Rp 175.000, mencakup empat kali pertemuan serta bahan-bahan, dari olahan limbah kertas, untuk membuat board game. Berminat?