Review Ghost of Yotei, Layak Jadi Game Terbaik di 2025

Oleh Trisno Heriyanto • 5 bulan yang lalu

Uzone.id- Ketika Sony dan Sucker Punch Productions mengumumkan Ghost of Yotei beberapa tahun lalu, banyak gamer penasaran apakah sekuel Ghost of Tsushima ini bisa memenuhi ekspektasi tinggi. Saat Ghost of Yotei akhirnya dirilis secara eksklusif untuk PlayStation 5, jawabannya langsung terlihat, game ini memang layak dibicarakan sepanjang 2025.

Sejak menit pertama, terasa bahwa Yotei bukan sekadar Tsushima versi grafis lebih bagus. Dunia yang ditawarkan benar-benar punya identitas berbeda. Lebih dingin, lebih sunyi, dan penuh ketegangan batin yang membentuk karakter utamanya. Nuansa Ezo yang bersalju memberi kesan isolasi yang kuat, jauh dari hangatnya pulau Tsushima.

Perjalanan Atsu sebagai karakter utama juga tidak digambarkan secara heroik. Pendekatan ceritanya lebih tenang dan personal. Yotei fokus pada pergulatan individu, bukan konflik besar.

Pengalaman kami pun sejalan. Interaksi Atsu dengan NPC, dialog, dan perkembangan cerita berjalan stabil, tidak tergesa-gesa, dan selalu kembali pada motivasi pribadi sang ronin.

Inilah yang membuat Yotei berbeda. Setiap misi utama terasa punya konteks jelas. Tidak selalu dramatis, tapi konsisten membangun tema balas dendam dan pencarian jati diri. Gaya penceritaannya cenderung ‘contained’, tidak melebar tanpa tujuan, hanya mengikuti perjalanan karakter dengan ritme yang pas.





Alur Cerita yang Menyentuh

Secara cerita, Yotei bergerak dengan pendekatan yang intim. Tidak seperti Tsushima yang membahas invasi Mongol, game ini membawa kita ke Ezo (sekarang Hokkaido) pada tahun 1603, atau lebih dari tiga abad setelah kejadian Tsushima.

Di sini kalian berperan sebagai Atsu, seorang ronin yang hidupnya dibentuk oleh tragedi. Keluarganya dibunuh oleh kelompok bernama Yōtei Six, dan trauma itu membentuk seluruh jalan hidupnya.

Yang menarik, tema balas dendam di Yotei tidak dibuat sensasional. Game ini menghadirkannya sebagai perjalanan yang reflektif. Atsu bukan pahlawan, melainkan seseorang yang berusaha memahami apakah dendam bisa benar-benar memberikan jawaban.





Cerita utama memungkinkan pemain memilih urutan target Yōtei Six. Struktur terbuka seperti ini membuat pengalaman setiap pemain bisa sedikit berbeda. Alurnya sendiri cenderung linear, dengan pola revenge arc yang familiar. Namun hubungan Atsu dengan NPC, pilihan dialog, dan cara dunia bereaksi terhadap reputasinya menambahkan kedalaman yang membuat cerita tetap relevan.

Game ini tidak hanya bertanya soal siapa musuh berikutnya, tapi juga apa yang tersisa setelah dendam selesai. Itu yang membuat alurnya terasa personal dan mengikat.





Gameplay dan Grafis yang Memukau

Visual Ezo adalah salah satu kekuatan terbesar Ghost of Yotei. Salju yang berjatuhan, material kayu dan kain, hingga pencahayaan dinamis membuat area Ezo terasa hidup. Perubahan waktu dari siang ke malam benar-benar mengubah suasana, dan itu terasa langsung saat mengeksplorasi dunia terbuka.

Gameplay combat juga berkembang signifikan. Sucker Punch mengganti sistem stance dengan mekanik baru yang lebih berbasis counter. Setiap senjata punya karakteristik tersendiri, dan kalian harus membaca ritme pertarungan lawan, bukan hanya mengandalkan refleks.

Pengalaman kami pada salah satu duel melawan anggota Yōtei Six yang menggunakan pedang besar menggambarkan hal ini dengan jelas. Kombinasi parry tepat waktu, gerakan menghindar, dan serangan balik menciptakan pertarungan yang terasa lebih taktis. Rasanya bukan sekadar menekan tombol, melainkan benar-benar membaca pergerakan musuh.





Eksplorasi juga tidak terasa kosong. Setiap area, mulai dari desa kecil hingga hutan berkabut, punya cerita atau petunjuk sejarah yang bisa ditemukan. Tidak semuanya besar, tapi cukup memberi rasa bahwa dunia ini punya catatan masa lalu. Entah kenangan buruk, atau memori baik.

Secara teknis, Yotei termasuk salah satu judul PS5 yang mendapat pujian karena performanya. Setelah Day-One Patch, rendering dan framerate terasa stabil, bahkan di area penuh efek salju dan partikel.


Sistem Kontroler yang Memaksimalkan PS5

DualSense menjadi elemen penting dalam pengalaman bermain Ghost of Yotei. Banyak gamer menilai game ini sebagai salah satu judul yang paling maksimal memanfaatkan fitur kontroler PS5, dan kami merasa hal itu sangat terasa selama bermain.

Adaptive triggers dan haptic feedback menghadirkan sensasi yang berbeda untuk tiap aksi. Menarik busur atau menahan serangan pedang berat memberikan resistansi yang natural. Ketika bilah pedang beradu, pola getarannya menyesuaikan intensitas benturan, membuat setiap duel terasa lebih nyata.

Motion control juga dimaksimalkan, tapi digunakan seperlunya saja, tidak berlebihan. Jadi tidak terasa mengganggu. Touchpad dimanfaatkan dalam beberapa ritual, seperti menulis nama target atau interaksi kecil di lokasi tertentu.





Detail suara melalui speaker internal DualSense menjadi keasyikan tersendiri. Suara langkah di atas salju, hembusan angin, atau efek kecil lain yang biasanya tenggelam di speaker TV justru terdengar jelas di kontroler.

Efek ini membuat suasana hutan di malam hari terasa lebih dekat. Kami kerap kali bermain tanpa earphone, dan suara yang keluar dari kontroler saja sudah cukup membangun imersi, terutama di area yang sepi.





Kesimpulannya, Ghost of Yotei adalah evolusi alami dari Ghost of Tsushima. Lebih fokus, lebih matang, dan lebih detail dalam konstruksi dunianya.

Ceritanya solid, gameplay-nya berkembang dengan baik. Dunia Ezo dibuat begitu memukau secara visual, dan integrasi DualSense memberikan pengalaman yang sulit ditemui di game lainnya.

Dengan semua kombinasi itu, tidak berlebihan menyebut Ghost of Yotei sebagai salah satu kandidat game terbaik di 2025.

Ini adalah game yang bukan hanya kalian mainkan, tapi bisa dirasakan. Seolah benar-benar berada di dunia samurai yang sunyi, dingin, dan penuh cerita yang belum selesai.