Dari Klaten ke WWDC, Ghazali Bongkar Bahayanya Canvas Fingerprinting
Cupertino, Amerika Serikat, Uzone.id - Di WWDC 2026, Apple kembali memberikan panggung kepada pelajar dari berbagai negara lewat Swift Student Challenge. Dari Indonesia, salah satu yang berhasil meraih Pemenang Unggulan Apple Swift Student Challenge 2026 adalah Ghazali Ahlam Jazali yang menciptakan aplikasi bernama They Have Your Fingerprint!.
Ghazali merupakan lulusan Universitas Sanata Dharma jurusan Ilmu Komputer asal Klaten, Jawa Tengah. They Have Your Fingerprint! yang ia kembangkan merupakan aplikasi edukatif yang mengangkat isu privasi digital, khususnya soal teknik pelacakan yang sering tidak disadari pengguna internet saat ini.
Saat berbincang dengan Uzone.id setelah keynote WWDC 2026 di Apple Park, Cupertino, Amerika Serikat (AS), Ghazali menjelaskan bahwa banyak pengguna internet masih menganggap privasi online bisa dijaga hanya dengan menghapus cookies.
Padahal menurutnya, pelacakan di internet tidak sesederhana itu.
“Nah, tapi orang tuh kebanyakan nggak ngerti cookies itu sebenarnya apa dan implikasinya itu apa. Sebenarnya itu bisa digunakan sebagai name tag bagi website-website,” kata Ghazali kepada Uzone.id.
Ia menjelaskan, cookies sebenarnya bisa berguna untuk membuat pengalaman pengguna lebih nyaman. Misalnya, ketika pengguna membuka sebuah situs dalam mode gelap, situs tersebut bisa mengingat pengaturan itu saat pengguna kembali membukanya.
“Dan itu bisa convenient sebenarnya. Contohnya kalau dulu kita pakai website-nya di dark mode, the next time kita visit website-nya, ya bisa dark mode lagi,” ujarnya.
Masalahnya, teknologi seperti ini juga bisa disalahgunakan sebagai metode tracking atau pelacakan pengguna.
“Kalau misalnya dipakai sama bad actor seperti data harvester atau trackers, itu cukup bermasalah. Implikasinya itu pada privasi kita,” jelas Ghazali.
Makanya, lewat They Have Your Fingerprint!, Ghazali ingin mengajak pengguna internet lebih sadar bahwa pelacakan online bisa terjadi dengan cara yang lebih canggih dan sulit terlihat.
Aplikasi ini berfokus pada canvas fingerprinting, sebuah teknik pelacakan yang dapat mengidentifikasi pengguna lewat perbedaan halus pada cara perangkat me-render font, warna, dan emoji.
Bagi pengguna awam, konsep ini tentu tidak mudah dibayangkan. Karena itu, Ghazali membuatnya dalam bentuk aplikasi yang interaktif, lengkap dengan mini-game agar pengguna bisa memahami cara kerja pelacakan tersebut dengan lebih ringan.
“App-ku ini tujuannya untuk ngajarin tentang itu. Jadi raising awareness tentang adanya metode-metode yang cukup advanced, yang jarang ada proteksi terhadap metodenya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, canvas fingerprinting menjadi salah satu contoh penting yang ingin ia jelaskan di dalam aplikasinya.
“App-nya fokus di sana. Metodenya itu kayak gimana, dijelaskan semuanya, di-breakdown supaya orang awam bisa tahu,” sambung Ghazali.
Pengguna diajak jadi pelacak
Salah satu pendekatan menarik dari They Have Your Fingerprint! adalah cara Ghazali menempatkan pengguna di sisi yang berbeda. Di app playground ini, pengguna justru bermain sebagai tracker atau pelacak.
Menurut Ghazali, cara ini sengaja dipilih agar pengguna bisa memahami masalah privasi dari sudut pandang pelaku pelacakan.
“Di game-nya ini ada mini-game. Tapi bedanya, mini-game-nya diformat kita tuh bermain sebagai tracker-nya,” jelasnya.
Ia memakai pendekatan ‘to know your enemy’. Dengan memahami cara kerja pelacak, pengguna diharapkan bisa lebih sadar terhadap risiko yang mungkin terjadi dan lebih berhati-hati ketika menggunakan internet.
“Jadi kita bakal lebih paham terhadap permasalahannya itu apa dan cara melindungi terhadap permasalahan itu,” katanya.
Agar konsep yang cukup abstrak ini lebih mudah dipahami, Ghazali juga menyajikan informasi lewat dokumen-dokumen virtual, seperti name tag, paspor, kartu penerbangan, dan tiket. Format ini dipilih karena lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari pengguna.
Teknis banget ya? Tapi, Ghazali sendiri menyebut kalau target utama dari They Have Your Fingerprint! adalah pengguna internet secara umum. Bahkan, kata Ghazali, di lingkungan IT sendiri masih banyak yang belum sepenuhnya sadar dengan metode pelacakan semacam ini.
“Orang awam pada umumnya. Sebenarnya juga menurutku, misalnya aku background-nya IT, dan bahkan di IT sendiri, aku ngeliat orang-orang banyak juga yang belum sadar terhadap keadaan kayak ginian,” ujarnya.
“Intinya aku mau nge-raise awareness ke orang pada umumnya, pengguna internet semuanya,” tambah Ghazali.
Segera rilis di App Store
Ke depan, Ghazali berencana menyempurnakan They Have Your Fingerprint! sebelum merilisnya ke App Store.
Saat ini, aplikasinya masih berfokus pada satu metode pelacakan, yaitu canvas fingerprinting. Namun, Ghazali ingin menambahkan lebih banyak topik privasi digital ke dalam aplikasinya.
“Sebenarnya ini kan hanya satu metode tracking yang masuk ke dalam sini. Awalnya aku pengen bikin lebih dari satu. Jadi ada beberapa opsi yang bisa dipelajari, jadi kayak education app beneran,” jelasnya.
Namun untuk tahap awal, Ghazali ingin memoles fitur yang sudah ada terlebih dahulu sebelum aplikasinya dirilis.
“Mungkin untuk sekarang satu dulu, di-polish dulu, habis itu di-publish. Terus nanti dikembangkan dari sana,” katanya.
Ia juga memastikan ada rencana untuk menghadirkan versi bahasa Indonesia.
“Iya, versi Indonesia. Di-lokalisasi,” tutup Ghazali.